MENGEMBALIKAN “ROH” PENDIDIKAN

Driyarkara pernah menyatakan bahwa hakikat pendidikan adalah “memanusiakan manusia”. Artinya, lewat pendidikan itu setiap peserta didik digembleng agar dapat menjadi “manusia”. Dan Plato bilang bahwa manusia adalah “binatang yang berakal budi’. Manusia dapat menjadi “manusia” kalau ia mempunyai akal dan mempunyai budi. Filosofi ini berkembang pada abad ke-21 dengan rumusan tentang multi-kecerdasan yang mesti dimiliki oleh seorang manusia, yakni kecerdasan intelektual, kecerdasan emosi, kecerdasan sosial, dan kecerdasan spiritual. Roh utama pendidikan adalah membangun individu yang cerdas, terampil, dan berbudi pekerti luhur.
Namun, yang terjadi sekarang ini adalah penjungkirbalikan arah pendidikan. Sekolah hanya mengejar target nilai Ujian Nasional (UN) sehingga mengesampingkan misi “pemanusiaan manusia” yang menjadi roh pendidikan itu sendiri. Sekolah hanya bertujuan meluluskan siswa sehingga menafikan proses pembelajaran. Dampaknya adalah lahirnya budaya pragmatisme dan serba-instan dalam praktik pendidikan. Karena tujuan akhir adalah tingginya tingkat kelulusan siswa, maka sekolah lebih memilih cara-cara yang pragmatis. “Apa pun caranya, yang penting adalah hasilnya”. Demikianlah motto yang dipegang. Lanjutkan membaca MENGEMBALIKAN “ROH” PENDIDIKAN

Iklan

1001 SIASAT HADAPI UJIAN

0019Sejak pemerintah mencanangkan Ujian Nasional sebagai faktor penentu dalam kelulusan siswa,  banyak cara yang dilakukan untuk menyiasati kebijakan tersebut. Tingkat kelulusan yang tinggi merupakan sebuah keniscayaan yang tak dapat ditawar lagi demi “harga diri” sekolah. Maka, setiap stakeholder sekolah harus bahu-membahu demi mencapai nilai ujian yang tinggi. Dan, segala cara pun dihalalkan.

Segala cara dihalalkan? Ya! Segala cara dihalalkan! Kita tahu  betapa hebatnya tekanan yang bernama UN ini. Bukan hanya siswa yang stress, namun guru, orang tua, kepala sekolah, kepala dinas, bahkan bupati pun ikut stress. Dan kita tahu, bahwa dalam keadaan tertekan, setiap orang bisa melakukan apa saja. Yang terjadi adalah kecurangan-kecurangan, baik yang dilakukan individu maupun kolektif.

Saya mencatat banyak sekali trik yang dilakukan untuk menggapai nilai UN nan tinggi itu. Lanjutkan membaca 1001 SIASAT HADAPI UJIAN

Merokok itu Haram?

rokok11Forum Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia III akhirnya mengeluarkan sebuah fatwa penting tentang merokok. Diputuskan bahwa merokok hukumnya “DILARANG”, yaitu antara haram dan makruh. Pimpinan Itjima’ Ulama Komisi Fatwa, Prof Dr HM Amin Suma MA mengatakan bahwa merokok itu haram untuk anak-anak di bawah umur, haram untuk ibu hamil, dan haram jika dilakukan di tempat umum.

Bagi yang antirokok, fatwa ini menjadi senjata ampuh dalam perjuangan dan cita-cita luhur mereka: membasmi rokok dari bumi ini. Merokok, apa pun alasannya, memang lebih banyak ruginya daripada untungnya. Dari segi kesehatan, kita semua tahu, nikotin itu berbahaya bagi tubuh manusia. Dari segi ekonomi, merokok itu memang pemborosan. Bahwa merokok itu boros, Wong Samin percaya. Harga sebungkus rokok saat ini Rp8.000. Kalau seorang perokok menghabiskan sebungkus rokok per hari, berarti per bulan dia membuang percuma Rp240.000! Dalam satu tahun berarti Rp2.880.000!!! Itu baru sebungkus sehari, lalu berapa rupiah biaya yang dikeluarkan oleh seorang perokok berat yang biasa “mengonsumsi” 4-5 bungkus per hari? Menurut data WHO, Indonesia merupakan negara dengan jumlah perokok terbesar ketiga di dunia, yakni 146 juta orang! Lanjutkan membaca Merokok itu Haram?

Berguru kepada Alam

Oase1Tak ada guru yang lebih baik dari alam semesta ini. Segala sesuatunya selalu memberi pelajaran yang berharga bagi kita. Karena alam adalah guru yang sejati. Karena dari alamlah kita bisa belajar tentang segalanya.
Kita belajar tentang kerendahan hati dari air yang mengalir. Tak ada zat yang lebih lembut daripada air. Namun, tak ada benda sekeras apa pun yang tak dapat dihancurkannya.
Kita belajar tentang kejujuran dari beningnya embun di pagi hari. Demikian jernih dan terang, tak ada sesuatu yang tersembunyi. Sebab segala sesuatu itu transparan adanya. Kebusukan atau keculasan, akan ketahuan karena hanya bertabir waktu. Lanjutkan membaca Berguru kepada Alam

melihat dari tepi, menguak ceruk-ceruk tersembunyi