KEKUASAAN DAN UANG

Dari manakah datangnya kekuasaan? Sebelum menjawab pertanyaan itu, kita mesti balik bertanya: dahulu atau sekarang? Bila ada calon pejabat yang rajin sowan ke “orang tua” demi sebuah kekuasaan, itu mungkin terinspirasi cerita masa lalu.

Tersebutlah dalam salah satu bagian Babad Tanah Jawi, kisah tentang Ki Pamanahan dan Ki Ageng Giring. Keduanya adalah sahabat erat bagai saudara. Ki Pamanahan tinggal di Mataram, yang waktu itu masih berupa dusun kecil. Ki Ageng Giring tinggal di Gunung Kidul. Ia penyadap nira.

Suatu pagi, Ki Ageng Giring memeriksa kebunnya. Di sebuah pohon kelapa yang biasanya tak berbuah, tampak sebutir kelapa muda. Ia heran. Dan ia terkejut ketika terdengar suara gaib: “Ki Ageng Giring, ketahuilah. Siapa yang meminum kelapa muda ini sampai habis, akan menurunkan raja agung yang memerintah seluruh Jawa”.

Ki Ageng memetik buah tunggal itu, lalu membawanya pulang. Di rumah, dipangkasnya sabutnya, tinggal meminum airnya. Tapi hari masih pagi, dan Ki Ageng belum haus, maka ia menyimpan kelapa itu di dapur. Ia ke hutan dulu, menebangi pohon dan membuka semak.

Tak lama kemudian, Ki Pamanahan tiba di rumah Ki Ageng. Terdesak haus oleh perjalanan jauh, ia langsung mencari minuman. Tapi belum ada nira sepagi itu. Ketika ditemukannya sebutir kelapa muda yang siap di dapur, ia langsung melubanginya dan menenggak airnya sampai habis. Ki Ageng tidak marah oleh ulah sahabatnya, ia menganggap itulah takdir. Syahdan, putra pertama Ki Pamanahan yang kemudian menjadi raja Mataram pertama, Panembahan Senopati.

Cerita tentang buah kelapa itu mungkin direka untuk mengukuhkan legitimasi kekuasaan raja-raja Mataram. Pada suatu zaman ketika demokrasi belum lahir, pemilihan tentang siapa yang berkuasa perlu dikukuhkan oleh suara gaib. Kekuasaan atau kedudukan, dengan begitu hampir mendekati sejenis kesaktian atau sesuatu yang melekat pada pribadi. Maka raja zalim atau bijaksana, bergantung pada watak pribagi sang raja.

Pada masa lahirnya demokrasi, slogan “dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat” sangat dijunjung dan dihargai. Jabatan atau kekuasaan akan dipandang sebagai amanah dan tanggung jawab karena lahir dari hati tulus rakyat yang telah memilih.

Namun, pada masa kini demokrasi tidak lagi “dihargai”, tapi justru “dibeli”. Uang menjadi senjata ampuh untuk meraih kekuasaan. Jabatan adalah semacam gengsi yang bisa dijual dan dibeli.

Iklan

6 thoughts on “KEKUASAAN DAN UANG

  1. Makanya kita juga gak bisa salahkan kalau ada pemberontak yang ingin membentuk negara sendiri slah satu faktor ini bis ajadi pemicunya, karena ketidak nyamanan dengan demokrasi yang ada di negara kita ini. Namun demikian saya juag nggak setuju dengan pemberontakan…

    Jalan satu-satunya Revolusi…

  2. Revolusi? Ahaa, sebuah kata yang sangat utopis. Tapi bener juga, sebab reformasi 1998 telah gagal membenahi segalanya. Salam Revolusi! Makasih sudah mampir ke blog yg masih berantakan ini.

  3. Sekarang demokrasi bisa dibeli cukup dengan bagi-bagiin kaos gratisan, nyumbang tempat ibadah dan pembangunan jalan cukup di awal kampanye, ikut ngeramein acara di kampung biar makin ‘dikenal’ warga dan pasang spanduk banyak2 di tiap inchi ruas jalan. Pasti deh kepilih.
    Balik lagi, modalnya cuma satu, uang.

  4. Sebab demokrasi telah kehilangan “ruh”. Ia bisa diperjualbelikan dari siapa, oleh siapa, dan untuk siapa. Trims sudah ikut gabung. Slm kenal!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s