1001 SIASAT HADAPI UJIAN

0019Sejak pemerintah mencanangkan Ujian Nasional sebagai faktor penentu dalam kelulusan siswa,  banyak cara yang dilakukan untuk menyiasati kebijakan tersebut. Tingkat kelulusan yang tinggi merupakan sebuah keniscayaan yang tak dapat ditawar lagi demi “harga diri” sekolah. Maka, setiap stakeholder sekolah harus bahu-membahu demi mencapai nilai ujian yang tinggi. Dan, segala cara pun dihalalkan.

Segala cara dihalalkan? Ya! Segala cara dihalalkan! Kita tahu  betapa hebatnya tekanan yang bernama UN ini. Bukan hanya siswa yang stress, namun guru, orang tua, kepala sekolah, kepala dinas, bahkan bupati pun ikut stress. Dan kita tahu, bahwa dalam keadaan tertekan, setiap orang bisa melakukan apa saja. Yang terjadi adalah kecurangan-kecurangan, baik yang dilakukan individu maupun kolektif.

Saya mencatat banyak sekali trik yang dilakukan untuk menggapai nilai UN nan tinggi itu. Tapi, mohon jangan curiga dulu. Bukan maksud saya untuk mengajari calon peserta atau calon panitia UN kalau trik-trik itu saya beberkan. Tujuan saya hanya, agar kita waspada dan hati-hati untuk pelaksanaan UN selanjutnya. Jangan sampai niat mulia pemerintah untuk menaikkan mutu pendidikan ini, justru di-counter dengan cara-cara curang yang tak bertanggung jawab.

Nah, inilah beberapa trik yang paling populer di antara 1001 siasat yang dapat digunakan:

1.      Manipulasi Lembar Jawab Komputer (LJK)

Cara ini marak dilakukan tahun 2004-2005. Pada waktu itu belum ada Tim Independen.Yang ada hanyalah Koordinator Pengawas (Korwas), yang tugas utamanya: (a) mengambil Soal Ujian dan Lembar Jawab Komputer (LJK) dari Panitia SubRayon ke Sekolah Penyelenggara Ujian (SPU), (b) bengong pada saat ujian dilaksanakan, lalu (c) mengantar LJK ke Subrayon.

Nah, dengan dalih untuk mengecek apakah siswa sudah benar dalam mengisi data pribadi di LJK, Panitia Ujian (baca: SPU) bisa sekaligus membetulkan jawaban yang salah.

Dampaknya? Karena biasanya Panitia hanya konsen pada siswa yang “diduga” nilainya rendah, maka siswa ini nilainya jadi menggelembung, menyalip siswa lain yang kemampuannya “di atasnya”. Jadi, jangan heran kalau di suatu sekolah, hasil UN mengejutkan. Siswa yang pandai kalah nilainya dengan siswa yang “biasa saja”.

 

2.      Meyiapkan LJK “Bayangan”

Siasat ini biasanya dilakukan oleh SPU yang sekaligus menjadi markas Subrayon. Karena ada cadangan LJK yang cukup banyak, mereka bisa menyiapkan LJK “Bayangan” untuk mengganti LJK asli milik siswa yang “diduga’ nilainya rendah. Setiap SPU menyiapkan Tim Khusus yang bertugas mengambil sisa soal dari Ruang Ujian (RU), mendistribusikan ke Guru Mapel yang bertugas menjawab soal, dan mengisi LJK “Bayangan” berdasarkan jawaban yang telah dirumuskan. Pada saat checking terakhir, sebelum LJK dibawa Korwas ke Subrayon, Panitia dengan keterampilan tangan ala Deddy Corbuzer, bisa mengganti LJK Asli siswa dengan LJK “Bayangan” yang telah disiapkan oleh Tim Khusus.

Dampaknya? Dampaknya ya setali tiga uang alias sami mawon dengan cara 1.

 

3.      Membocorkan Kunci Jawaban

Cara yang paling heboh adalah dengan menaruh kunci jawaban di WC. Sebelum di setiap RU ada siswa yang bertugas menjadi koordinator. ??? Ya! Koordinator ini tugasnya menyebarkan hasil temuannya ke siswa lain dalam satu RU. Caranya? Bisa secara langsung atau menggunakan kode-kode tertentu yang aman atau bisa mengelabui Pengawas. Misalnya dengan isyarat seperti: pegang kuping kanan untuk jawaban A, pegang rambut untuk jawaban B, menggaruk kepala untuk jawaban C, dst. Ya, tentu saja perlu latihan dulu untuk menerapkan cara ini.

Cara yang paling canggih adalah menggunakan sms via telepon genggam (HP). Untuk cara ini kiranya tidak perlu saya jelaskan.

Namun, berbagai bentuk kecurangan ini akhirnya “tercium” juga. Maka beberapa kebijakan dalam penyelenggaraan UN pun diperbarui. Mulai tahun 2006, Pemerintah menyiapkan Tim Independen Pemantau Ujian (wah, nama tepatnya saya lupa, pokoknya Tim Independen gitu). Tim ini bertugas memantau, mencatat, dan melaporkan pelaksanaan UN di setiap SPU. Anggota Tim ini adalah dari Perguruan Tinggi terdekat.

Prosedur pengawasan pun diperketat, antara lain dengan cara: (a) Sisa soal tidak boleh keluar dari RU, (b) Sampul LJK harus dilem di RU sehingga tidak mungkin disisipi LJK lain, (c) Selain Pengawas RU, siapa pun, termasuk Pejabat, tidak diperkenankan masuk RU, (d) Peserta atau pengawas RU tidak diperbolehkan membawa HP, (e) dll.

Apakah ini sudah aman? Eit, tunggu dulu! Yang namanya maling itu punya 1001 cara untuk mencuri. Nah, SPU yang nakal tidak kekurangan cara untuk berbuat curang. Karena tidak mungkin memanipulasi LJK, cara yang paling memungkinkan adalah membocorkan jawaban kepada siswa. Caranya? Untuk mendapatkan sisa soal dari RU, Panitia tidak kekurangan akal. Banyak jalan menuju Roma! Untuk membocorkan jawaban kepada siswa? Sekali lagi, banyak jalan menuju Roma. Nih, beberapa cara yang populer:

  1. Menggunakan Bunyi/Suara

Untuk mempraktikkan cara ini, sebelumnya perlu ada simulasi atau semacam latihan. Hah! Latihan berbuat curang? Di lingkungan sekolah banyak sumber bunyi yang bisa digunakan. Sebelum UN, perlu juga disepakati makna dari bunyi-bunyi tersebut. Misalnya, bunyi peluit untuk melambangkan jawaban A, ketukan kayu untuk B, klakson untuk C, dst.

Untuk cara ini ada kurang lebih 70-an variasinya.

 

  1. Menggunakan Pengumuman Tersamar

Pengumuman Tersamar? Ah, saya bingung menentukan judulnya. Contohnya begini: Beberapa menit setelah UN berlangsung (tentu saja setelah Tim Khusus mendapatkan kunci jawaban), lewat pengeras suara SPU bisa mengumandangkan pengumuman semacam ini… “ Pengumuman… Mohon perhatian kepada siswa yang disebut namanya berikut ini, nanti setelah ujian… dimohon mengahadap ke Kantor TU… satu … Budi … dua … Daniel… tiga … Cecep … empat… Bambang … lima … Anisa …”.

Tahu kan maksudnya? Itu artinya jawaban no. 1 B, 2 D, 3 C, 4 B, 5 A.

Ada 33 variasi dari cara ini! 

 

  1. Menggunakan Tanda

Setiap benda di sekolah bisa dijadikan tanda. Misalnya pot bunga. Untuk melaksanakan siasat ini, Panitia bekerja sama dengan Pesuruh sekolah. Caranya: Pesuruh sekolah menaruh  pot bunga di tempat yang mudah dilihat oleh siswa. Setiap pot berisi jenis bunga yang berbeda, yang melambangkan huruf yang berbeda. Misalnya, bunga Aglaonema untuk huruf A, Bonsai untuk huruf B, dst.. Pot bunga ini ditaruh berjejer dengan urutan yang telah disepakati sebelumnya. Nah, butuh 10 pot untuk 10 jawaban.

 

  1. Dan lain-lain, dan lain-lain

 

Itu sekedar beberapa cara yang , sekali lagi, jangan ditiru. Masih banyak cara lain, yang kalau saya beberkan semua, blog ini tidak akan cukup menampungnya. Bagaimana UN tahun 2009 ini? Selama soal UN masih berupa soal Check Point atau Pilihan Ganda, 1001 cara masih akan digunakan. Maka, waspadalah!

 

Iklan

6 thoughts on “1001 SIASAT HADAPI UJIAN

  1. Ya Pak, saya pernah dengar dari kawan saya seorang guru, yang demi prestise sekolah, berupaya meluluskan semua siswanya apapun yang terjadi. Salah satunya melalui “bantuan” guru dengan cara-cara yang disebutkan di atas.

    Hmmm..generasi kita ini sudah sangat bersahabat dengan budaya instan..apa jadinya jika terus begini..gimana kita mau maju?

  2. Benar Mbak Icha. Kayaknya memang perlu ada revolusi besar2an dalam pendidikan kita tuh

  3. Idealnya Ujian memang bentuk uraian, sehingga yang dinilai adalah proses. Dengan soal obyektif, nggak ada bedanya antara siswa yg nggak ngerti sama sekali dengan siswa yang ngerti 90%. Selain itu, kalau anak mau curang, hanya dalam beberapa detik bisa nyontek puluhan jawaban dari temannya.

  4. @marsudiyanto. Memang betul, Pak. Kalau kita mau serius menguji siswa secara nasional, mestinya juga memperhitungkan segala aspeknya. Tampaknya kita masih suka seenaknya saja sehingga bentuk soal obyektif ini dipertahankan.

  5. Hai Santo,
    menarik sekali ‘menu’ tulisanmu tentang UN. sungguh itu informasi yang baru buat aku. Suatu perjuangan dan pengorbanan yang besar bagi ‘orang muda’ demi meraih prestise bukan prestasi dalam UN.

    Terkait dengan masalah ujian ini mungkin, kita perlu belajar pada sekolah-sekolah yang menerapkan kurikulum internasional. ada hal-hal teknis ujian yang bisa mereduksi kecemasan, kecurigaan, kecurangan selama proses ujian dan penilaian.

    Nah kalau memang ingin tahu…nanti pas reuni 5 Juli ’09 kita bisa share ttg hal ini.

    salut untuk blog-nya dan maju teruuussss kawan…
    see you on that day ….pitaya

  6. @pitaya. Trims sudah mau mampir. Begitulah memang dunia pendidikan kita. Orientasi hanya pada hasil atau nilai semata. Padahal, sekolah sebagai kawah pendidikan mestinya menjadi tempat untuk menggembleng manusia agar menjadi “manusia”, sebagaimana cita-cita Romo Driyarkara. Aku sering iri sama teman2 yang bisa berkarya di sekolah bermutu seperti Pelita Harapan. Sukses juga buat sampean.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s