SENYUM (IBLIS)-MU ADALAH TANGISKU

Orang bilang senyum itu ibadah. Senyum adalah penyejuk hati bagi yang disenyumi. Sebuah pertemuan yang diawali dengan saling bersenyum akan mencairkan suasana, sehingga jalinan komunikasi antarpribadi dapat terbangun dengan mesra. Meski belum ada buku yang menulis tentang manfaat senyum, kita sepakat bahwa senyum itu enak dilihat dan perlu. akil-mochtar-1-131004c

Senyum merupakan aktivitas tubuh yang multimakna. Senyum dapat dilakukan oleh siapa pun dan dalam suasana bagaimana pun. Maka ada istilah senyum ramah, senyum mesra, senyum manis, senyum tipis, senyum pahit, senyum kecut, senyum mengejek, senyum sinis, dan senyum-senyum lainnya.

Para model iklan (kecuali iklan obat sakit perut atau sakit kepala), di bawah komando pengarah gaya, selalu memasang senyum seindah-indahnya demi kesuksesan produk yang diiklani. Dan senyum mereka itu bisa berharga puluhan, bahkan ratusan juta rupiah.

Para caleg, yang fotonya (meski sebenarnya dilarang!) menghiasi (baca: mengotori) sudut-sudut kota sampai pelosok desa, tahu betul pentingnya sebuah senyum. Mereka berusaha memasang senyum semanis-manisnya saat dijepret kamera. Meski dalam keseharian mereka jarang tersenyum, dalam foto mereka memasang senyum yang paling indah. Itu untuk menimbulkan kesan bahwa mereka adalah orang yang ramah, pintar, dan bijaksana; sehingga akan membawa kebaikan bila menjadi wakil rakyat kelak.

Pejabat publik atau pemimpin yang murah senyum, tentu akan memberikan kesejukan di hati rakyatnya. Tapi, tidak semua senyum itu menyejukkan hati. Senyum justru terasa menyakitkan bila dilakukan oleh mereka yang tidak seharusnya tersenyum. Misalnya, seorang pejabat yang terlibat kasus korupsi. Atau, sebut saja: koruptor.

Adalah hak bagi koruptor untuk tersenyum atau tidak tersenyum. Tidak ada undang-undang atau peraturan yang melarang koruptor untuk tersenyum. Jadi, sah-sah saja kalau mereka tersenyum. Mungkin mereka tersenyum untuk menutupi hati yang gundah karena masalah yang sedang mereka hadapi. Mungkin mereka tersenyum karena bangga disorot puluhan kamera dan disaksikan jutaan pasang mata pemirsa televisi. Mungkin juga untuk menunjukkan kepada khalayak, bahwa mereka yakin tidak bersalah dan akan memenangkan perkara yang mereka hadapi. 59316_large

Kita sebagai masyarakat penerima senyum, tentu memiliki kesan beragam tentang arti senyum itu. Tapi, bagi saya yang sudah muak dengan berita korupsi yang menggerogoti negeri, senyum itu terasa menyakitkan. Seperti senyum iblis!

Saya memang belum pernah melihat iblis, baik yang sedang cemberut atau tersenyum. Saya hanya membayangkan, seperti itulah kalau iblis tersenyum. Di balik senyum orang-orang terhormat yang terlibat kasus korupsi, baik yang berstatus saksi, terduga, tersangka, maupun  terdakwa; ada seribu makna yang saya baca. Senyum mereka seolah berkata:

“Saya yakin, saya tidak bersalah. Saya melakukan itu sesuai dengan prosedur yang benar.”

“He he, saya punya pengacara handal. Dia saya bayar mahal. Tentunya dengan segala cara dia akan berusaha membela saya.”

“Ini hanya salah paham. Lihat saja nanti… pengadilan negeri ini tak dapat menghukum saya…”

“Ini masalah kecil bagi saya. Ini adalah resiko menjadi pejabat seperti saya.”

“Tenang sajalah. Saya punya backing yang kuat. Mereka tidak akan tinggal diam melihat saya diperlakukan begini…”

“Saya memang telah menilap uang proyek itu. Tapi, saya tidak bermaksud memperkaya diri. Dana itu untuk partai dan pendukung saya. Santai saja, … mereka pasti akan membantu saya keluar dari masalah ini”

 Dan masih banyak kata-kata lain yang saya baca dari senyum (iblis) mereka. Semuanya terasa menyakitkan dan membuat saya ingin menangis. Sakit, karena saya membayangkan jutaan rakyat menderita dan hidup di bawah garis kemiskinan. Sakit, karena uang yang mereka (para koruptor) sikat, mestinya bisa mengentaskan jutaan rakyat miskin itu. Menangis, karena mereka telah disumpah untuk melakukan macam-macam dan tidak akan melakukan macam-macam sebelum menjabat, melalui ritual pengucapan sumpah jabatan yang dilaksanakan dalam upacara megah dan dibiayai dengan uang rakyat. Menangis,  karena pada akhirnya mereka melanggar sumpah yang telah diucapkan. Dan mereka masih tersenyum lebar ketika digelandang dari atau menuju ruang sidang. Sungguh terlalu…!

NERAKA BUATAN ORBA

(Share atas tulisan Harsutejo)

siapa-suharto-09

Judul asli tulisan Harsutejo ini adalah “Neraka Rezim Suharto”. Judul diambil dari sebuah buku tipis (156 + xi halaman) yang kemudian diikuti sub-judul “Misteri Tempat Penyiksaan Orde Baru” susunan Margiyono dan Kurniawan Tri Yunanto, Spasi & VHRBook, Jakarta, 2007.Berikut ini selengkapnya tulisan Harsutejo.
Bagi yang mengenal kekejaman rezim Orba, apalagi bagi mereka yang pernah menjadi tapol Orba, dari sebagian daftar isinya dapat membayangkan apa kira-kira kisah di dalamnya: Bab I Rumah Setan di Gunung Sahari; Bab II Rumah Hantu di Menteng Atas; Bab III Kekejaman di Kremlin [Kramat Lima]; Bab IV Jeritan di Rumah Meester Cornelis; Bab V Horor di Gang Buntu; dst. Kedua penulis muda ini tidak sedang bercerita tentang kisah horor yang banyak muncul di televisi belakangan ini, tapi tentang kekejaman yang dialami para tapol, para terculik yang dilakukan rezim militer Orba Suharto sejak 1965 sampai 1998, bagian dari sejarah kelam horor.

Rumah Setan di Gunung Sahari terletak di Gunungsahari III, sebuah rumah besar milik seorang Tionghoa yang dirampas dan dijadikan markas Operasi Kalong setelah tragedi 1 Oktober 1965. Operasi di bawah Mayor Suroso ini pula yang berhasil menangkap orang keempat PKI Sudisman karena pengkhianatan kawan dekat dan pembantunya. Algojo yang bernama Letnan Bob tersohor kekejamannya, setiap tapol di Jakarta gemetar jika dibon olehnya ke markas Kalong. Alat penyiksa standar berupa pentungan kayu dan karet, buntut ikan pari yang dipasangi paku kecil, kabel dengan lempeng-lempeng yang dialiri listrik. Setiap tapol baru dikejutkan dan dihancurkan mentalnya dengan siksaan alat-alat tersebut, apapun yang diakuinya. Sengatan listrik merupakan ujung kekuatan seorang pesakitan berakhir. Setiap tapol perempuan diperiksa dengan telanjang bulat, demikian juga dengan interogatornya. Baca lebih lanjut

To The So Called The Guilties

When your heart’s down
And you sit in front of the court
The lawyers do something for you
They judge the right against the wrong
While you don’t know what happened behind
 
To the so called the guilties
They try to differ
from good to bad
The court may sentence you
prison or even death
Then beat afast
That you feel what’s in your heart
if you forgot the Lord
Yes, the Lord above

Lirik lagu tersebut bukan karya Bob Dylan atau John Denver. Mungkin Anda tidak mengira kalau lagu tersebut karangan Tonny Koeswoyo dan diliris Koes Bersaudara  tahun 1967, dua tahun setelah geger 1965. Sangat mengherankan bila lagu tersebut luput dari sensor rezim Orde Baru yang ketat. Barangkali karena lirik tersebut berbahasa Inggris, sehingga rezim Orde Baru tidak menyadarinya.

Padahal, dari judulnya saja lagu tersebut sudah “mencurigakan’.   To The So Called The Guilties, Untuk Mereka yang Dianggap Bersalah. Orang awam pun tahu kemana arah lagu tersebut. Ketika itu adalah masa yang paling kelam dalam sejarah republik ini. Kendati sudah sering dibicarakan, peristiwa 30 September 1965 itu sampai sekarang masih misterius. Saya tidak ingin membicarakan peristiwa itu dari sudut pandang politik maupun agama. Saya ingin membahasnya dengan sudut pandang kemanusiaan. Baca lebih lanjut

TAK MAU DIGUSUR UMUR

Benarkah hanya pada masa muda orang bisa memulai segalanya? Kartini meninggal pada usia 24 tahun. Bayangkan, betapa mudanya ketika ia berangkat dengan ide-ide besar. Kemudian, pada awal abad ke-20, sejumlah organisasi yang namanya dimulai dengan Jong bermunculan. Hitung saja dari sejarah, berapa umur Muhammad Yamin atau Bahder Johan atau Dr. Wahidin atau Bung Karno waktu memulai sesuatu – yang kemudian menjadi tonggak sejarah.

Masa perang kemerdekaan juga menyediakan momentum yang bagus untuk anak-anak muda. Tahun 1946, Panglima Divisi Siliwangi adalah seorang pemuda bernama AH Nasution, umurnya 28 tahun. Aidit dan Nyoto memimpin PKI pada usia yang belum genap 20 tahun. Dan mereka berhasil membawa partai itu mencapai kejayaannya. LANJUTKAN MEMBACA!

METAMORFOSIS KAMUS BESAR BAHASA INDONESIA (KBBI) MENJADI KAMUS BAHASA INDONESIA (KBI)

Tanpa terasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sudah 23 tahun lebih berada di tengah-tengah kita. Selama kurun waktu itu KBBI telah mengalami perkembangan muatan lema, dari 62.000 pada edisi pertama (1998) menjadi 91.000 pada edisi keempat (2008). Hal ini menunjukkan bahwa KBBI selalu memutakhirkan kandungan lema-nya. Menurut catatan Pusat Bahasa, dari edisi pertama sampai edisi keempat, KBBI telah mengalami cetak ulang puluhan kali.

Pada bulan Oktober  2008, Pusat Bahasa meluncurkan Kamus Bahasa Indonesia (KBI). Dibandingkan dengan KBBI, KBI telah mengalami penyempurnaan definisi atau penjelasan lema/sublemanya, penambahan makna (akibat perkembangan pemakaian bahasa), perbaikan penulisan latin untuk nama tumbuhan dan hewan, serta perubahan urutan susunan sublema.

Untuk memudahkan download, saya memecah KBI per initial secara alfabetis. Semoga bermanfaat!

  1. A, silakan DOWNLOAD  di sini
  2. B, silakan DOWNLOAD  di sini
  3. C, silakan DOWNLOAD  di sini
  4. D, silakan DOWNLOAD  di sini
  5. E, silakan DOWNLOAD  di sini
  6. F, silakan DOWNLOAD  di sini
  7. G, silakan DOWNLOAD  di sini
  8. H, silakan DOWNLOAD  di sini
  9. I, silakan DOWNLOAD  di sini
  10. J, silakan DOWNLOAD  di sini
  11. K, silakan DOWNLOAD  di sini
  12. L, silakan DOWNLOAD  di sini
  13. M, silakan DOWNLOAD  di sini
  14. N, silakan DOWNLOAD  di sini
  15. O, silakan DOWNLOAD  di sini
  16. P, silakan DOWNLOAD  di sini
  17. Q, silakan DOWNLOAD  di sini
  18. R, silakan DOWNLOAD  di sini
  19. S, silakan DOWNLOAD  di sini
  20. T, silakan DOWNLOAD  di sini
  21. U, silakan DOWNLOAD  di sini
  22. V, silakan DOWNLOAD  di sini
  23. W, silakan DOWNLOAD  di sini
  24. X, silakan DOWNLOAD  di sini
  25. Y, silakan DOWNLOAD  di sini
  26. Z, silakan DOWNLOAD  di sini

KEKUASAAN DAN UANG

Dari manakah datangnya kekuasaan? Sebelum menjawab pertanyaan itu, kita mesti balik bertanya: dahulu atau sekarang? Bila ada calon pejabat yang rajin sowan ke “orang tua” demi sebuah kekuasaan, itu mungkin terinspirasi cerita masa lalu.

Tersebutlah dalam salah satu bagian Babad Tanah Jawi, kisah tentang Ki Pamanahan dan Ki Ageng Giring. Keduanya adalah sahabat erat bagai saudara. Ki Pamanahan tinggal di Mataram, yang waktu itu masih berupa dusun kecil. Ki Ageng Giring tinggal di Gunung Kidul. Ia penyadap nira.

Suatu pagi, Ki Ageng Giring memeriksa kebunnya. Di sebuah pohon kelapa yang biasanya tak berbuah, tampak sebutir kelapa muda. Ia heran. Dan ia terkejut ketika terdengar suara gaib: “Ki Ageng Giring, ketahuilah. Siapa yang meminum kelapa muda ini sampai habis, akan menurunkan raja agung yang memerintah seluruh Jawa”.

Ki Ageng memetik buah tunggal itu, lalu membawanya pulang. Di rumah, dipangkasnya sabutnya, tinggal meminum airnya. Tapi hari masih pagi, dan Ki Ageng belum haus, maka ia menyimpan kelapa itu di dapur. Ia ke hutan dulu, menebangi pohon dan membuka semak. Baca lebih lanjut

MENGGUGAT HAKIKAT PENDIDIKAN

Singosari pada pertengahan abad ke-13. Seorang pemuda bersimpuh di depan pintu padepokan Ki Sidik Danusara, sore itu. Dilihat dari wajah letih dan pakaiannya, pemuda itu dari kalangan rakyat jelata yang datang dari tempat yang jauh.

Para cantrik memandang dengan remeh ke arah pemuda. Namun, kebetulan Ki Sidik sedang berada di pendopo, beliau menyuruh si pemuda menghadap. Si pemuda – yang memperkenalkan dirinya dengan nama Nurseta – pun menyatakan keinginannya untuk mereguk ilmu di padepokan. Berguru. Trenyuh oleh keadaan dan tertarik oleh semangat si pemuda, Ki Sidik pun menerimanya sebagai murid. Sejak itulah Nurseta berguru, mulai dari ilmu kadigdayan, agama, sampai susastra. Tujuh tahun kemudian, si pemuda “turun gunung” dengan berbekal aneka ilmu dari Ki Sidik. Ia menjadi pendekar yang tampan, sakti mandraguna, dan getol membasmi kejahatan. Baca lebih lanjut

MENGEMBALIKAN “ROH” PENDIDIKAN

Driyarkara pernah menyatakan bahwa hakikat pendidikan adalah “memanusiakan manusia”. Artinya, lewat pendidikan itu setiap peserta didik digembleng agar dapat menjadi “manusia”. Dan Plato bilang bahwa manusia adalah “binatang yang berakal budi’. Manusia dapat menjadi “manusia” kalau ia mempunyai akal dan mempunyai budi. Filosofi ini berkembang pada abad ke-21 dengan rumusan tentang multi-kecerdasan yang mesti dimiliki oleh seorang manusia, yakni kecerdasan intelektual, kecerdasan emosi, kecerdasan sosial, dan kecerdasan spiritual. Roh utama pendidikan adalah membangun individu yang cerdas, terampil, dan berbudi pekerti luhur.
Namun, yang terjadi sekarang ini adalah penjungkirbalikan arah pendidikan. Sekolah hanya mengejar target nilai Ujian Nasional (UN) sehingga mengesampingkan misi “pemanusiaan manusia” yang menjadi roh pendidikan itu sendiri. Sekolah hanya bertujuan meluluskan siswa sehingga menafikan proses pembelajaran. Dampaknya adalah lahirnya budaya pragmatisme dan serba-instan dalam praktik pendidikan. Karena tujuan akhir adalah tingginya tingkat kelulusan siswa, maka sekolah lebih memilih cara-cara yang pragmatis. “Apa pun caranya, yang penting adalah hasilnya”. Demikianlah motto yang dipegang. Baca lebih lanjut

1001 SIASAT HADAPI UJIAN

0019Sejak pemerintah mencanangkan Ujian Nasional sebagai faktor penentu dalam kelulusan siswa,  banyak cara yang dilakukan untuk menyiasati kebijakan tersebut. Tingkat kelulusan yang tinggi merupakan sebuah keniscayaan yang tak dapat ditawar lagi demi “harga diri” sekolah. Maka, setiap stakeholder sekolah harus bahu-membahu demi mencapai nilai ujian yang tinggi. Dan, segala cara pun dihalalkan.

Segala cara dihalalkan? Ya! Segala cara dihalalkan! Kita tahu  betapa hebatnya tekanan yang bernama UN ini. Bukan hanya siswa yang stress, namun guru, orang tua, kepala sekolah, kepala dinas, bahkan bupati pun ikut stress. Dan kita tahu, bahwa dalam keadaan tertekan, setiap orang bisa melakukan apa saja. Yang terjadi adalah kecurangan-kecurangan, baik yang dilakukan individu maupun kolektif.

Saya mencatat banyak sekali trik yang dilakukan untuk menggapai nilai UN nan tinggi itu. Baca lebih lanjut

Merokok itu Haram?

rokok11Forum Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia III akhirnya mengeluarkan sebuah fatwa penting tentang merokok. Diputuskan bahwa merokok hukumnya “DILARANG”, yaitu antara haram dan makruh. Pimpinan Itjima’ Ulama Komisi Fatwa, Prof Dr HM Amin Suma MA mengatakan bahwa merokok itu haram untuk anak-anak di bawah umur, haram untuk ibu hamil, dan haram jika dilakukan di tempat umum.

Bagi yang antirokok, fatwa ini menjadi senjata ampuh dalam perjuangan dan cita-cita luhur mereka: membasmi rokok dari bumi ini. Merokok, apa pun alasannya, memang lebih banyak ruginya daripada untungnya. Dari segi kesehatan, kita semua tahu, nikotin itu berbahaya bagi tubuh manusia. Dari segi ekonomi, merokok itu memang pemborosan. Bahwa merokok itu boros, Wong Samin percaya. Harga sebungkus rokok saat ini Rp8.000. Kalau seorang perokok menghabiskan sebungkus rokok per hari, berarti per bulan dia membuang percuma Rp240.000! Dalam satu tahun berarti Rp2.880.000!!! Itu baru sebungkus sehari, lalu berapa rupiah biaya yang dikeluarkan oleh seorang perokok berat yang biasa “mengonsumsi” 4-5 bungkus per hari? Menurut data WHO, Indonesia merupakan negara dengan jumlah perokok terbesar ketiga di dunia, yakni 146 juta orang! Baca lebih lanjut